
Faham kebangsaan adalah salah satu paham yang paling sulit dimengerti. Entah mengapa, kita yang lahir di Nusantara ini tiba-tiba dijejali dengan berbagai doktrin nasionalistik. Guru-guru kita berkata : “engkau adalah bagian dari Bangsa Indonesia, engkau harus bangga menjadi Bangsa Indonesia, engkau harus bisa membawa nama baik bangsamu, engkau harus menjaga citra bangsa, engkau harus mau berkorban untuk bangsamu, engkau harus selalu berani membela bangsamu, engkau harus menjaga kesatuan bangsamu, engkau harus serahkan jiwa-ragamu untuk kehormatan bangsamu, engkau harus meletakkan kepentingan bangsamu di atas segala-galanya, dan lain-lain”.
Nasionalisme telah menjadikan identitas kebangsaan sebagai identitas paling tinggi. Kepentingan bangsa adalah kepentingan tertinggi. Kebangsaan dijadikan sebagai faktor utama untuk menyatukan manusia, kebangsaan juga yang dijadikan sebagai faktor utama untuk memisahkan/membedakan diri dengan manusia lain (yang tidak sebangsa). Ikatan kebangsaan dijadikan asas dalam membangun sebuah negara. Inilah yang disebut “negara bangsa” (nation state).
Faham Yang Irasional
Entah apa yang membuat kita bertahun-tahun mau menerima mentah-mentah doktrin seperti ini. Padahal, jika kita mau sedikit berfikir, ada satu pertanyaan kritis yang bisa kita ajukan terkait dengan masalah ini. Pertanyaannya adalah: “Siapa yang menutut saya untuk membaktikan diri sepenuhnya kepada apa yang disebut dengan bangsa? Atas dasar apa identitas kebangsaan itu mesti membawa konsekuensi untuk menaruh loyalitas tertinggi kepada ikatan kebangsaan?”. Jawabnya apa? Saya rasa tidak ada jawaban benar yang bisa membuat kita menerima doktrin di atas secara rasional.
Dari sini kita jadi tahu, bahwa nasionalisme itu bukanlah ide yang rasional. Faham kebangsaan itu bersifat emosional. Hanya gara-gara kita dilahirkan dalam sebuah bangsa, dan hidup di tempat yang sama, maka kita harus memberikan loyalitas tertinggi kepada bangsa itu, tanpa boleh mencerna alasannya. Mereka berkata: Kita harus berjuang, bersaing dengan bangsa lain, agar bangsa kita memiliki nama yang harum di tengah bangsa-bangsa di dunia. Kita tidak boleh membiarkan bangsa kita didominasi oleh pihak lain, sehingga kita harus senantiasa menjaga kemandirian bangsa. Bahkan kalau perlu, kita harus berani mengorbankan hidup kita demi bangsa tercinta. Jangan biarkan sesuatu pun memecah-belah bangsa kita, walau dengan alasan agama sekali pun. Itulah yang mereka ajarkan. Semua hanya dibangun oleh satu alasan, yaitu “karena kita dilahirkan dalam sebuah bangsa”. Sungguh tidak masuk akal. Ikatan dan loyalitas semacam itu hanya lahir dari pandangan yang dangkal dan sempit. Hanya lahir dari naluri mempertahankan diri seperti tampak pada binatang-binatang yang hidup secara berkelompok.
Nasionalisme Tidak Layak Dijadikan Asas dan Kepribadian Negara
Negara merupakan unit kehidupan sosial manusia. Di dalam negara terjadi berbagai macam interaksi manusia yang sedemikian kompleks. Di dalam negara terkumpul berbagai macam problematika kehidupan masyarakat yang tidak sederhana. Atas dasar itu, negara wajib memiliki sistem yang berfungsi untuk mengatur seluruh bentuk interaksi sosial di dalamnya. Negara wajib memiliki sistem yang berguna untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan sosial, baik menyangkut seluruh urusan dalam negeri maupun luar negeri. Maka, negara membutuhkan seperangkat sistem kehidupan yang menyeluruh, sesuai dengan karakternya yang khas.
Dan apa yang disebut nasionalisme tidak bisa memberi sistem apa pun kepada manusia, selain sekedar tempat untuk berpijak (tanah-air). Maka, paham kebangsaan jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan dari sebuah negara. Yang dibutuhkan oleh sebuah negara yang berkepribadian mantap adalah idiologi. Yakni sebuah pemikiran yang dapat memberi manusia suatu pandangan mendasar dan menyeluruh mengenai kehidupan, beserta seperangkat sistem kehidupan yang memancar dari pemikiran tersebut. Dari idiologi tersebut ditelorkan berbagai macam sistem kehidupan yang memiliki corak khas, baik dalam pemerintahan, ekonomi, hukum, sosial, pendidikan, dan politik luar negeri. Dan semua itu tidak akan kita dapat dari dalam bumi, dalam tanah-air tempat kita lahir. Juga tidak kita dapati dalam sifat genetik yang secara turun-temurun diwariskan oleh leluhur kita. Sebab, idiologi memang bukan soal kebangsaan, tapi soal pemikiran (maksudnya faham tertentu).
Islam Sebagai Idiologi
Islam merupakan idiologi yang lahir dari pandangan hidup tertentu. Aqidah islam adalah pandangan hidup islam, sedangkan syariah islam yang digali dari Al Qur’an dan assunah merupakan sistem menyeluruh yang akan mengatasi seluruh problematika kehidupan manusia. Atas dasar itu, islam merupakan sebuah idiologi yang layak dijadikan sebagai asas dalam bernegara.
Aqidah islam melihat kehidupan dan problematikanya dengan cara yang khas. Dunia seisinya diciptakan oleh Allah, dan seluruh problematika kehidupan dunia disiapkan sebagai ujian bagi manusia. Allah menurunkan wahyuNya kepada Muhammad saw agar manusia bisa menjalani ujian itu dengan benar. Dan Allah akan mematikan manusia, kemudian menghitung hasil ujian yang telah mereka jalani. Kemudian manusia akan menerima balasan dari apa yang telah ia kerjakan.
Aqidah islam memancarkan berbagai sistem kehidupan yang unik. Tidak ada satu pun problematika di dunia ini yang tidak teratasi oleh sistem islam. Dengan sistem itu, manusia bisa menjalani kehidupannya dengan benar, dan akan bisa mempertanggunjawabkan seluruh amalnya kepada Allah pada hari perhitungan. Islam mengatur sistem pemerintahan secara jelas, sebagaimana islam memberi manusia aturan tentang sholat. Islam mengatur permasalahan peperangan secara rinci, sebagaimana islam juga mengatur permasalahan mu’amalah. Islam mengatur sistem ekonomi secara baik, sebagaimana islam juga mengatur permasalahan shaum. Islam memaparkan sistem pidana dengan detail, sebagaimana islam menjelaskan perihal thoharoh. Dsb
Maka jelas, islamlah yang dibutuhkan oleh manusia untuk meraih kebahagiaan dunia-akhirat. Islamlah yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan berbagai ujian ini, baik dalam sektor privat maupun sektor publik, baik dalam urusan keluarga maupun urusan negara.
Kepada Siapa Hidup Ini Kita Dedikasikan?
Kalau kita bicara mengenai “kepada siapa hidup kita ini kita dedikasikan?” dan “kepada siapa loyalitas tertinggi kita berikan?” maka jawabannya tidak bisa dilepaskan dari cara kita dalam menjawab pertanyaan “untuk apa kita hidup?”. Kita hidup bukan untuk menyembah “bangsa”. Jika anda seorang muslim, maka anda harus yakin bahwa hidup manusia hanya untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala. Maka, Allah-lah labuhan dari seluruh hidup dan amal kita. Kepada Nyalah kita dedikasikan seluruh pengabdian kita. Kita lahir untuk mentaati perintahNya. Perintah Allah Ta’ala inilah yang harus kita perjuangkan mati-matian. Sebab, taat kepada Allah Ta’ala adalah alasan kita di dunia. Siapa yang berjalan bersama-sama kita dalam mengabdi kepada Allah, maka mereka adalah saudara “sebangsa” kita, tanpa memandang keluarga, kebangsaan, warna kulit, dll. Kita bersatu karena aqidah. Dan siapa saja yang menghalangi manusia untuk menuju jalan hidayah, maka merekalah musuh sejati kita. Kita akan berhadap-hadapan dengan mereka di medan peperangan. Tidak peduli siapa mereka, hingga andaikata mereka adalah keluarga kita, maka mereka akan tetap kita hadapi.
Maka, sebagai sebuah idiologi yang universal untuk seluruh umat manusia, Islam menentang ide kebangsaan. Diriwayatkan bahwa rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِىٍّ عَلَى أَعْجَمِىٍّ وَلاَ لِعَجَمِىٍّ عَلَى عَرَبِىٍّ وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
“wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan bapak kalian adalah satu.ketahuilah bahwa tidak ada kelebihan bagi orang arab dibandingkan non arab, dan begitu pula non arab dengan arab, dan juga kulit merah dibandingkan kulit hitam begitu pula sebaliknya, kecuali dengan taqwa( HR : Ahmad )”. Jadi perjuangan Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam menghimpun manusia adalah perjuangan atas dasar islam, bukan kebangsaan.
Menyatukan Umat Islam
Sekarang, umat islam telah tercabik-cabik oleh nasionalisme. Orang Indonesia bangga dengan keindonesiaannya. Orang mesir bangga dengan mesirnya, orang irak bangga dengan iraknya, orang malaysia bangga dengan malaysianya. Yang menjadi misi kita sekarang adalah menyatukan hati-hati kaum muslimin. Menghancurkan belenggu nasionalisme yang telah lama memisahkan hati dan loyalitas mereka. Kemudian, mengajak mereka untuk kembali kepada masa kejayaannya. Masa pada saat umat islam memiliki satu payung yang akan menghimpun dan menyalurkan seluruh dedikasi dan loyalitas mereka. Yaitu sebuah negara yang akan memberi arena bagi umat islam untuk membaktikan diri mereka sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Khilafah akan membuat mereka tidak butuh dan lupa dengan nasionalisme yang busuk itu!
Wahai umat islam! Jangan lagi kalian katakan “Bagiimu negri jiwa raga kami”, tapi katakanlah “inna sholaatiy wa nusukiy wa mahyaayaa wa mamaatiy lillaahi Rabbil ‘aalamiin”! …Wallahul musta’aan.(Amru, dari sasak.net dengan editing) Read More..