Penegakan tauhid adalah inti di utusnya para Rasul. Dan karen tauhid pula Allah Ta'ala menurunkan kitab-Nya, menciptakan seluruh manusia dan dunia seisinya. Bahkan kalimat tauhid ini jika ditimbang dengan langit dan bumi serta dunia seisinya, akan lebih berat tauhid.
Akan tetapi tauhid yang agung ini tidak akan bisa ditegakkan kecuali di suatu daerah yang menerapkan syari'at islam. Negeri islamlah yang mengajarkan tauhid yang benar pada ummat, memberantas kesyirikan dengan kekuatan, menghancurkan tempat-tempat kemusyrikan dan menyelamatkan umat islam dari kemurtadan yang tidak disadarinya.
Maka keduanya adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Khilafah tidak akan menuntun kejalan yang benar jika aqidah penegaknya rusak, atau sebaliknya, tauhid tidak dapat direalisasikan dengan baik jika tidak ada wadah yang menampungnya. Persisi sebagaimana mata uang. Ia tidak akan laku jika hanya terdapat satu sisi saja. Dan ia akan berharga jika keduanya utuh.
Wajibnya menegakkan khilafah
Kekhilafahan adalah sesuatu yang sangat penting di dalam Dienul Islam. Tidak ada perselisihan di antara umat dan para imam tentang kewajiban menegakkan khilafah, kecuali sebagian dari golongan Khawarij dan Mu'tazilah.
Banyak dalil yang menerangkan tentang wajibnya menegakkan khilafah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah: 30).
Al Qurthubiy berkata, “Ayat ini adalah dasar dalam mengangkat imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, agar persatuan berkumpul dengannya dan hukum-hukum Khalifah diterapkan dengannya. Dan tidak ada perbedaan dalam wajibnya hal itu di antara umat dan tidak pula di antara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Ashamm – Al Mu’taziliy – karena dia itu Asham (tuli) dari syari’at ini.”
Allah SWT juga berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (An Nisaa`: 59)
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah SWT mewajibkan kepada kaum muslimin untuk mentaati ulil amri. Perintah untuk taat tersebut menunjukkan bahwa wajib hukumnya mengangkat waliyyul amri (khilafah). Karena Allah tidak mungkin mewajibkan kaum muslimin untuk taat kepada sesuatu yang tidak ada.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang mati sedang di lehernya tidak ada bai’at maka dia mati dengan mati jahiliyyah.”
Hadits di atas menunjukkan tentang wajibnya mengangkat imam. Karena bai'at tidak akan terjadi tanpa ada imam.
Al Mawardiy rahimahullah berkata, “Mengangkat imam bagi orang yang mampu menegakkannya di tengah umat adalah wajib dengan berdasarkan ijma.”
Al Haitsamiy rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa sahabat radhiyallahu 'anhum telah ijma bahwa mengangkat imam setelah berlalunya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban terpenting dimana mereka menyibukkan diri dengannya dari penguburan Rasulullah SAW.”
Dengan kehilafahan akan tegak tauhid, menjamurnya kader-kader pejuang islam, dan dihargainya darah dan kehormatan seluruh umat islam. Seluruh umat islam harus mengarahkan seluruh aktifitasnya untuk mengembalikan kehilafahan tersebut. Dan tentunya harus diwadahi dalam aqidah yang lurus.
Khilafah tidak mungkin tegak tanpa tauhid yang benar
Seluruh umat Islam harus berusaha menegakkan tauhid. Yaitu amal yang serius yang berkesinambungan untuk merealisasikan tauhid dengan segala macam-macamnya, dan cabang-cabangnya yang sudah baku dalam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di tengah umat. Terlebih lagi pada kelompok yang menerjuni tugas dakwah dan amal dalam rangka menolong dien ini dan meninggikan kalimatnya di muka bumi ini. Hal ini penting karena beberapa sebab:
Sebab pertama : Bahwa tauhid dalam dienul Islam dinilai sebagai tujuan bagi segala tujuan yang karenanya Allah menciptakan makhluk, Dia mengutus Rasul-rasul dan Dia menurunkan Kitab-kitab, serta Dia mensyari’atkan jihad dan qital …
Sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An Nahl : 36).
Dan Dia ta’ala berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al Anbiyaa’ : 25)
Dan firman-Nya ta’ala :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzaariyaat : 56)
Dan firman-Nya ta’ala :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah : 5)
Tauhid adalah tujuan paling tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya atau sejajar dengannya. Tidak boleh menelantarkannya dalam rangka menegakkan tujuan atau maksud lain. Dengan ungkapan lain mengorbankan tauhid dalam rangka menegakkan hilafah. Ia selamanya menjadi prioritas utama saat banyak tugas dan amal yang bertumpuk.
Sebab kedua : Bahwa tamkin, kemenangan, istikhlaf (pemberian kepercayaan untuk memimpin) dan keamanan serta kebaikan lainnya yang kita elu-elukan dan kita cari serta kita berupaya ke arah sana… semua itu disyaratkan dengan adanya perealisasian tauhid pada diri kita, jama’ah-jama’ah kita dan masyarakat-masyarakat kita. Sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (An Nuur : 55)
Perealisasian tauhid tergolong sebab paling kuat untuk meraih kemenangan, peneguhan dien ini serta keberkuasaan, dan kebalikannya juga seperti itu, dimana di antara sebab terbesar kekalahan, kegagalan dan kehinaan adalah lenyapnya tauhid dan tidak merealisasikannya pada diri kita, jama’ah-jama’ah kita dan hidup kita… Allah ta’ala berfirman :
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad : 7)
Yaitu bila kalian menolong Allah dengan menta’ati-Nya, mengibadati-Nya dan mentauhidkan-Nya, maka Dia akan menolong kalian atas musuh-musuh kalian dengan berupa pengokohan-Nya.
Penutup
Setelah kita membahas hubungan antara tauhid dengan penegakan hilafah, jelas bagi kita bahwa perjuangan mengembalikan kembali khilafah harus diwadahi tauhid ahlus sunnah dengan manhaj salaf yang lurus. Bohong jika ada kelompok ingin mengembalikan kehilafahan tetapi tidak berakidah lurus.
Demikian pula bohong bagi mereka yang berusaha menegakkan tauhid tetapi tidak pernah berfikir mengembalikan kehilafahan. Apakah mereka mengira cukup hanya dengan hafalan kitab-kitab tauhid ? atau sudah mendapat gelar-gelar mentereng dari jurusan-jurusan tauhid ? Sama sekali tidak ! tauhid tidak tegak hanya dengan teori. Ia butuh tempat yang akan menumbuhkan dan menyuburkannya. Semoga kita diberi kekuatan Allah Ta'ala untuk mengembalikan kehilafahan yang telah hilang. Dan semoga ummat ini diberi kesabaran dalam menempuhnya walaupun berat dan panjang jalan yang harus dilaluinya. wallahul musta’an. [ Anwar & Amru].
1 komentar:
tulisanya siip
Posting Komentar